Tidak seperti lumpia dan bandeng presto, keberadaan nasi glewo sebagai makanan khas kota Semarang sudah hampir punah. Makanan yang terdiri dari nasi putih, koyor sapi dan kuah santan ini sudah jarang ditemukan di kota Semarang.  Adalah Rika, wanita berusia 29 tahun yang mulai memunculkan kembali makanan legendaris ini. Berbekal resep turun temurun, Rika membuka warung sederhana di rumahnya yang terletak di jalan Batan Miroto IV, Semarang Tengah.

Rika mengaku neneknya dahulu pernah berjualan nasi glewo sekitar tahun 1970an di daerah Genuk, Semarang. Sudah memiliki banyak pelanggan, warung nasi glewo tersebut terpaksa ditutup karena sang nenek pindah ke luar kota. Meski begitu, nasi glewo tetap menjadi masakan turun temurun dan biasa menjadi santapan keluarga Rika.

Hingga suatu hari, Rika berencana mengikuti salah satu event kuliner di kota Semarang. Lalu ia teringat resep nasi glewo yang pernah diajarkan ibunya. Awalnya Rika merasa kurang percaya diri karena takut kalah pamor dengan banyaknya makanan kekinian yang hadir di tengah masyarakat saat ini. Namun, ia memberanikan diri untuk membuka stand nasi glewo mengingat makanan ini sudah jarang sekali ditemukan. Tak disangka Rika mendapat respon positif dari para pembeli, terutama generasi tua yang merindukan nasi glewo khas Semarang. Tak hanya generasi tua, banyak juga anak muda yang tertarik mencicipi nasi glewo buatan Rika. Kehadiran nasi glewo milik Rika ternyata mampu membuat para pembeli bernostalgia. Bahkan salah satu pakar kuliner, Bondan Winarno, rela jauh-jauh mendatangi stand milik Rika demi menikmati seporsi nasi glewo. Ia mengaku sudah bertahun-tahun mencari kuliner khas Semarang ini dan baru menemukan nasi glewo milik Rika. Melihat respon yang cukup baik, Rika memutuskan untuk mengehentikan usaha catering yang pernah dilakoninya dan fokus berjualan nasi glewo.

Sepintas, nasi glewo memiliki kemiripan dengan nasi pindang khas Kudus. Bedanya nasi pindang memiliki kuah santan hitam sedangkan nasi glewo memiliki warna sedikit kemerahan. Dalam penyajiannya, nasi glewo dilengkapi emping, sambal terasi dan bawang goreng untuk menambah citarasa.

Meskipun memiliki rasa yang nikmat, banyak generasi penjual Nasi Glewo yang memilih tidak meneruskan usaha leluhurnya. Menurut Rika, penjual nasi glewo mulai jarang ditemukan di kota Semarang karena ketersediaan koyor atau urat sapi yang terbatas sehingga harganya pun cukup mahal. Namun berbeda dengan Rika, ia nekat berjualan nasi glewo karena menurutnya masakan ini merupakan warisan leluhur yang perlu dijaga. Rika berharap kedepannya bisa memiliki warung di lokasi strategis sehingga ia bisa terus melestarikan nasi glewo sebagai salah satu kuliner nusantara.

Menekuni usaha nasi glewo membuat Rika memutuskan bergabung menjadi mitra Madhang. Menurutnya, proses mendaftar menjadi mitra Madhang sangatlah mudah bahkan tidak dipungut biaya. Selain itu, harga menu pada aplikasi Madhang cukup terjangkau karena Madhang menerapkan sistem bagi hasil bagi para mitra. Oleh karena itu, Rika berharap bisa mendapat lebih banyak pelanggan dari Madhang. Bagi pecinta nasi glewo, seporsi nasi glewo bisa dipesan melalui mitra.madhang.id/nasiglewo.