Ingin membawa makanan Wonosobo ke Semarang, jatuh bangun dalam membangun usaha kuliner sudah mulai dilakoni Farid Hidayat sejak bangku kuliah. Alumni UIN Walisongo Semarang ini memulai usaha opak singkong khas Wonosobo sejak tahun 2012. Seminggu sekali, Farid membeli opak setengah matang dari kampung halamannya kemudian ia goreng dan packing sendiri disela jam kuliah. Keripik opak singkong tersebut kemudian ia jual dengan dititipkan ke warung-warung dan angkringan. Karena merasa tak balik modal, di tahun berikutnya Farid memilih berjualan manisan carica yang masih merupakan oleh-oleh khas Dieng, Wonosobo. Namun usaha ini juga berhenti karena alasan yang sama.

Di awal tahun 2013, Farid terpikirkan untuk berjualan mie ongklok dan nasi tempur alias nasi megono khas Wonosobo. Mie ongklok merupakan sajian mie kuah khas Wonosobo yang direbus bersama dengan sayuran dan disiram dengan kuah kental. Mie Ongklok  Sedangkan nasi tempur sendiri adalah sebutan bagi nasi megono oleh Farid dan teman-temannya  saat masih sekolah dulu. Farid memilih nama nasi tempur untuk membedakan dengan nasi megono khas Pekalongan. Ia menuturkan, nasi megono khas Pekalongan berbeda dengan yang di Wonosobo. Jika di Pekalongan nasi megono menggunakan sayur nangka atau gori, di Wonosobo menggunakan kriwis atau sayur irisan sejenis kol. Untuk menambah citarasa, nasi tempur biasanya disajikan bersama tempe kemul, telur atau ayam goreng.

Farid pun mempelajari resep mie ongklok dan nasi tempur dari sang ibu saat pulang kampung. Sekembalinya ke Semarang, ia mencoba menjajakan mie ongklok dan nasi tempur buatannya di kantin kampus dengan nama kedai ongklok sekuter. Sedikit demi sedikit pelanggan kedai ongklok sekuter semakin ramai, terutama karena menu nasi tempur yang mengenyangkan dan pas untuk kantong mahasiswa. Farid mengaku di awal usaha ia menemukan berbagai kendala karena harus membagi waktu antara usaha dan kuliah. Seperti saat harus mengikuti perkuliahan, pria berusia 26 tahun ini terpaksa meninggalkan dagangannya. Setelah dihitung-hitung, bukannya mendapat untung malah hasil yang didapat minus. Untuk mendapatkan modal tambahan, Farid bahkan sempat bekerja sebagai kasir minimarket sedangkan warungnya ia percayakan pada temannya. Ditahun 2015, usaha Farid terlihat nampak membaik, bahkan di malam hari ia menambah usaha roti bakar gerobak. Roti bakar ini kemudian menjadi bisnis franchise hingga memiliki 8 cabang yang tersebar di kota Semarang.

Setelah usahanya dirasa sudah cukup stabil, pada pertengahan tahun 2018 Farid memberanikan diri untuk membangun Kedai Ongklok Sekuter di jalan Beringin Raya, Ngaliyan, Semarang. Sekuter sendiri merupakan singkatan dari ‘semakin laku terus’, sebagai doa untuk usahanya. Menu utama yang dijual pun sama seperti yang Farid jajakan di kantin kampus yaitu mie ongklok dan nasi tempur dengan ditambah beberapa menu seperti ayam bumbu rujak dan ayam kepidak. Kedai Ongklok Sekuter biasanya ramai dikunjungi sejak sore hingga malam hari, terutama setelah jam kerja. Harga yang dibanderol Kedai Ongklok Sekuter cukup terjangkau. Di aplikasi Madhang, seporsi mie ongklok dibanderol seharga sepuluh ribu rupiah sedangkan nasi tempur tempe hanya delapan rupiah saja. Sangat ramah untuk kantong mahasiswa bukan? Untuk menikmati lezatnya makanan khas Wonosobo ini, Mie Ongklok dan Nasi tempur dapat dipesan di mitra.madhang.id/kedai-ongklok-sekuter